Do what you like and do it honestly

Mar 18, 2013

TERSEMBUNYI SURGA DI PULAU SEMPU

Tujuh belas ribuan jumlah pulau di Indonesia, sadarkah kita hanya pernah pergi ke sebagian kecilnya saja? Mungkin juga tidak sama sekali. Lupakan dalih takut hitam karena liburan di pulau tersembunyi yang bernama SEMPU, sangat mengesankan. Jika kamu suka berbikini, di pulau ini kita bebas mengekspresikan diri tanpa rasa malu!  

Hujan mengguyur deras. Aku memasukkan beberapa barang penting ke dalam ransel kuning. Ya, kali ini tidak sendiri lagi. Tapi bersama Schafer dan Ovy. Kami memang sudah nekat untuk menelusuri surgawi terpendam di wilayah selatan Malang. “Give Up the Fucking Raincoat, to Small for me” teriak kesal Schafer. Sambil mondar mandir, pria berdarah Jerman ini mencoba berulang kali menghubungi Ovy. Tak perlu menunggu lama, gadis mungil  berambut terurai panjang mucul di depan pintu rumahku. “Why don’t you answer my phone, ovy?” geram Schafer berucap. “Sorry honey”, dengan sigap Ovy mengecup pipi Schafer, sambil menggenggam erat kedua tangannya. 

Tidak ada fasilitas apapun di dalam pulau sempu. Bagimana dengan Ponsel? tidak berguna. Pasalnya, di pulau ini tak ada sinyal yang bisa ditangkap. Selain itu, kami sudah mempersiapkan peralatan Camping dan Ransum tuk kebutuhan tiga hari kedepan.

Aku memeriksa ulang perlatan kemping   dan ngeloyor ke toilet untuk sekedar sikat gigi dan cuci muka, biar tetap segar. Sengaja kupilih Jeans lusuh, kaos putih tipis berbahan catton, sandal jepit Karate dan  dengan sangat terpaksa menggendong ransel sarat beban.  Setelah siap, kami sarapan sari roti srikaya sisa semalam.
Let’s Go!!!

Kali ini, Ovy yang menyetir monster Jeep biru tua.  Pulau Sempu terletak di selatan Malang. Dari Kota menuju ke Pantai Sendang Biru sekitar 70 km, melewati Turen, terus ke arah Sumber Manjing. Dari sana sudah banyak papan penunjuk jalan menuju Sendang Biru. Sepanjang perjalanan, Schafer sibuk memotret dengan kamera SLR dan ku hanya duduk manis sambil mendengarkan musik cadas dari I-Phone miliknya.

Sebagian jalanan rusak, berliku nan sempit, dipenuhi kebun tebu di kiri-kanan. Jeep terus melaju dengan kecepatan 100 km/jam. Seketika memasuki gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Pantai Sendang Biru”, dua setengah jam tidak terasa.

Mulanya, menikmati pantai dari sisi Sendang Biru kurang begitu cantik karena banyak kapal-kapal nelayan bersandar. Tapi aku terus menatap luas laut biru yang sungguh menawan.

Pantai itu berada di desa nelayan dengan pusat pelelangan ikan. Sudah niat dari awal tuk membeli beberapa ekor ikan segar. Awesome! This is the best day ever. teriak Schafer. Selain itu, kita juga sudah mempersiapkan satu botol vodka dan peralatan lengkap tuk membakar ikan. Setelah usai belanja, kami pun langsung berlari menuju ke kapal motor  yang tampak layu dimakan usia. 

Terdengar suara ombak menyambut kehadiran kami. Birunya air laut terlihat berkilauan karena sorotan sinar mentari yang cukup terik. Dunia lain terpampang  di seberang sana. Ada rasa bahagia berkecamuk di dada. Apakah ini surga duniawi?


Untuk masuk ke dalam pulau, kapal akan diberhentikan di depan jalur masuk pulau, tetapi tidak bisa sampai ke tepi karena banyak akar bakau di sekitar pantai, sehingga semua harus turun dari kapal dan berjalan dengan kondisi air selutut untuk masuk ke pulau.

Sial! Aku terpeleset dan nyemplung bareng dengan I-phone pinjaman. Air laut sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Dan sudah jelas RUSAK!! Semua malah tertawa dan tak satupun menolongku. Aku pikir bakal di semprot amarah, dan anehnya dia cuma bilang “Never mind, Kharis”.   

Bagiku, kenikmatan tertinggi dalam melakukan perjalanan hanyalah saat alam memberi kehidupan, tapi jangan merusak. Ketahanan fisik bukan masalah besar, melainkan kekuatan mental dan psikologis sangat di utamakan. Telah banyak campur tangan Tuhan dalam perjalananku selama ini.  Sepanjang perjalanan melintasi jalan sempit setapak.
Pada saat berjalan, kaki harus tertatih-tatih untuk mengatur ritme  agar tak roboh menopang ransel yang seperti gajah.

Pepohonan tumbuh amat rimbun.  Sesekali kami menemukan pohon yang tumbang membentang di jalur trekking. Keadaan ini agak menghalangi pejalanan, namun  terkadang menjadi tantangan tersendiri. Nilai petualangannya terasa lebih kental. Terpaksa kita harus berjalan menunduk, merangkak, sampai terkadang meloncat. Semilir angin dan kicauan burung menjadi perpaduan suasana yang sempurna.

Tampak kami semua sudah  sangat lelah. Bajuku serasa dilumuri peluh keringat dan sandal jepit Karate tercinta Made in Malaysia dilumuri tanah coklat.  Tanpa sadar satu botol Aqua takaran 1500 ml, tanpa tetesan terakhir. Aku benar-benar dehidrasi. Aku letih namun puas. Aku ingin terlepas sepenuhnya dari dunia luar, jenuh dengan rutinitas. Sudah dua jam lebih kami berjalan beriringan, tapi belum sampai juga di Segara Anakan.
Yang menarik dari pulau yang ini adalah lagunnya yang indah, bernama Segara Anakan. Terletak di ujung pulau, air yang masuk ke dalam kolam raksasa ini berasal dari ombak yang menghantam secara periodik melalui karang bolong, dari Samudera Hindia yang terkenal ganas.

Sementara itu, di belakang kami terhampar hutan belantara, sedang di depannya adalah pantai berpasir putih yang dikelilingi tebing. Kami benar-benar melihat pemandangan yang luar biasa indah setelah lelah berjalan kaki. Nikmati saja deburan ombak Samudera Hindia dan ramai suara bermacam burung. Surga!

Sesampainya di sana, kami langsung bahu-membahu mendirikan tenda. Satu persatu tenda didirikan. Setelah itu, Schafer pergi menyalakan api unggun dan Ovy sibuk membakar ikan, perut sudah laper. Anehnya, aku masih berusaha mengeringkan I-phone dengan hangatnya bara api itu. Jujur, ku merasa bersalah dan tak enak hati.  Pengalaman yang sangat luar biasa. Kakiku sedikit lecet kena hempasan ombak ke karang tadi.

Ovy dan aku pun menyempatkan untuk mengumpulkan karang dan kerang kecil yang lucu. Segara Anakan bisa dibilang sebagai Hidden Paradise in Sempu Island. Karena Danau inilah para penikmat alam semesta datang berbondong-bondong ke sini!

Hari sudah semakin larut. Gelapnya malam tidak berarti sinar bintang ikut pudar. Lihat kelangit luas,  aku diam termenung. Coba  resapi deburan ombak yang menerpa keras tebing karang. Sengaja aku tidur terlebih dulu, berbalut sleeping bag, guna memulihkan kondisi tubuh. Love Today.

Konon, jika beruntung kita bisa menemukan jejak kaki macan tutul.



Pemandangan Pagi  Segara Anakan (Camping Area)

Hempasan Ombak Samudra Hindia



Comments
0 Comments

0 comments: