Do what you like and do it honestly

May 6, 2013

Q and A : SAF FITRI

Dua tahun silam, hidup sama dengan bekerja keras. Terlintas tuk berpikir tidak perlu bekerja keras layaknyya anak-anak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tapi pikiranku berubah drastis setelah mengenal lebih dekat keluarga Riggs.

Hari pertama menjejakan kaki di rumah Riggs, aku terpana dengan kedisiplinan buah hati mereka, yaitu Kirra Riggs dan Chelsea Riggs. Mereka dengan tekun belajar di meja belajar untuk “School on The Air”, hanya  bermodal jaringan internet. Memang rata-rata anak-anak yang tinggal di Cattle Station tidak bersekolah di dalam kelas tapi bersekolah melalui sistem teleconference,  dikarenakan sangat jauh dari pusat kota. Ini hal pertama yang  kupelajari, bahwa apapun kondisi kita, kita harus DISIPLIN BELAJAR. Bayangkan saja, jika di kelas tanah air, apabila tidak ada guru maka biasanya para siswa akan bubar karena tidak ada yang mengontrol dalam belajar.

Hal ini setali tiga mata uang, dengan sang kaka tertua. Tahlia Riggs berada dalam keluarga yang lebih dari kata mapan. Tapi gadis berusia delapan belas tahun ini, di didik untuk selalu bekerja keras dan tangung jawab. Dia selalu bangun sebelum matahari terbit setiap harinya dan selalu siaga membantu mengembangakan Peternakan  Sapi, milik keluarganya. Dia bisa membenarkan alat berat yang luar biasa besar dengan peralatan bengkel sederhana. Dan sudah sangat terbiasa menggiring ribuan sapi puluhan kilometer, hanya dengan berkuda.,Bisa dibilang, dia tidak pernah merasa berkeberatan untuk melakukan pekerjaan laki-laki. Selain itu,  Dia tidak akan berhenti bekerja sampai matahari terbenam. Dan ketika matahari terbenam, dia masih sibuk di dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. 


Persahabatan kami sangat unik, karena kami berasal dari belahan bumi lain dengan latar belakang keluarga yang berbeda.  Namun perbedaan tersebut tidak lantas membatasi kami. Saat itu, matahari belum terbit dan alarm sudah berbunyi. Melissa, Martin dan aku harus bersiap untuk  melaksanakan aktifitas di cattle station. Mellisa Taylor (28) adalah seorang wanita yang bekerja di Lakefield , begitu juga dengan Martin Flack (21). Kami bertiga selalu berangkat bersama, saling menunggu, dan saling membantu, bahkan mereka selalu mengingatkan diriku untuk melaksanakan sholat.

Dua sosok ini tentunya akan selalu ku ingat. Usianya mungkin terbilang matang, tapi banyak orang tidak akan percaya, karena dia terlihat sangat muda. Dia selalu berkata bahwa kita harus menikmati hidup dan “kontrol pikiran” agar tidak mudah strees. Tak ketinggalan sang penasehat Martin Flack, sosok yang cukup aneh karena visi hidupnya juga sangat unik. Satu satunya alasan dia datang di Australia adala untuk memperlancar komunikasi berbahasa. Pemuda asal Jerman  ini mungkin hanya bekerja untuk sementara waktu, karena tujuan utamanya hanyalah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya selama travelling di negeri kanguru ini.

Australia Utara sangat tidak ideal untuk perantau dari Indonesia dikarenakan perbandingan manusia dan luas tanah yang dihuni.  Kita bisa mengendarai mobil selama berjam jam tanpa menemukan pengendara  lain. Di sini sangat sepi, sangat jarang pertokoan.Tapi dengan tata kota yang sangat efektif dan efisien. Hal yang paling membuat diriku terkejut, hanya ada satu supermarket, satu bengkel, satu penjahit, dan itu hanya ada di Darwin.

Dan kalau sudah malam, serem…





Lakefield Station, Northern Teritory – Australia.




1.     Bagaimana toleransi beragama di Negri Kangguru?
Sebagai seorang muslimah, tidak begitu sulit bagiku beribadah,  karena orang-orang Autralia memiliki toleransi tinggi.  Secara keseluruhan mereka sangat antusias dan bahkan banyak bertanya mengenai hijab. Tapi satu hal yang tidak pernah absen dari pembicaraan adalah “Bali” , entah kenapa Bali lebih terkenal daripada Indonesia!!! Ooooooo Bali oh Bali……


2.     Apakah mengalami kesulitan dalam perubahan ransum sehari-hari?
Aku mengalami shock culture dalam rupa masakan,   untuk memenuhi hasrat lidah Indonesia. Akhirnya aku berusaha berdamai dengan sandwich dan daging setengah matang.  Dan aku cukup beruntung terhindar dari konsumsi Haram, dikarenakan  mereka selalu memberi tau, jikalau ada daging babi di meja makan.
   
3.     Apa yang terlintas di kepala ketika mendengar Australia?
Jika yang lain ingat bahwa Australia adalah negeri kanguru, maka bagiku pribadi merupakan negeri sapi, Yeah…negeri sapi, Mooooooo. Bayangkan jika ratus-ribuan sapi dibibitkan di negeri tersebut, sapi-sapi dibiarkan di jalan-jalan dengan pola pastoral, tanpa ada yang mencuri seperti di tanah air :p , sejauh mata pemandang hanya ada padang penggembalakan sapi.

4.     Bagaimana ceritanya bisa sampai ke kampung halaman  Amborigin?
Aku berangkat atas nama Indonesian Student Cattle Buffalo Lovers.  Program ini disponsori NTCA, MLA, NT Government, Australia. Dan aku tak sendiri melewati training yang luar biasa dari pihak NTCA (Nothern territory Cattleman Assc. ) di Alice Spring, kota paling selatan dari Australia Utara.

Selama seminggu kami harus bertahan dengan suhu nyaris 10 oC dan kegiatan yang padat. Training tersebut sangat mengesankan karena kami bisa berinteraksi dan belajar langsung bersama suku Aborigin dengan tentor kulit putih. Ini adalah suatu bentuk multicultural dimana orang kulit coklat, kulit hitam dan kulit putih saling berinteraksi tanpa memandang suku, agama dan ras.

5.     Apa yang menarik di dunia Peternakan?
Berbagai kegiatan telah kulalui,  di mulai dari membantu panen sapi (system mustering) yang jumlahnya ribuan, berkuda dan menggiring ternak dengan helikopter. Bayangkan jika saja di Indonesia kita hanya bertemu dengan beberapa ekor sapi untuk skala rumah tangga, dan di Australia kami menangani beribu-ribu sapi tiap harinya, Wow………….amazing

6.     Apa benar Peternak di benua Australia kaya raya?
Benar sekali, sangat amat kaya raya.

Hal ini didukung penuh oleh  Pemerintah, dalam penyewaan lahan dan semua kebutuhan peternakan. Selain itu, mereka mengupayakan efisiensi kerja terutama di peternakan keluarga. Usaha mengajari anak-anak dengan kerja keras sehingga menghasilkan sumber daya manusia sangat potensial, istilahnya “tidak ada kata nganggur  baik untuk tua maupun generasi muda”.

7.      Apa yang kamu lakukan selama Lima tahun ke depan ?
Jujur, aku masih punya segudang mimpi dan sudah tertuang di DREAMBOOK. Selain itu, harus segera Sarjana, Speak English Fluently, Traveling every single inches of Indonesia, active on social entrepreneurship, Get Overseas Scholarship (Japan and Europe), working on multinational company and be Super Mom.






Hidup itu kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas dan kerja tuntas
-Saf Fitri
Comments
0 Comments

0 comments: