Do what you like and do it honestly

May 23, 2013

TERKAPAR DI RANU KUMBOLO

Sore menjelang matahari terbenam. Aku letih namun puas.Dan tidak akan menghabiskan energi mental  untuk apapun yang tak berguna. Aku tetap berjalan di lintasan jalan setapak yang telah ditentukan.  Di kejauhan terlihat samar-samar sebuah bangunan, tempat perisitrahatan (Shulter). Aku hampiri sembari sempoyongan berlari. 

Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Bagiku, kenikmatan tertinggi dalam melakukan perjalanan hanyalah saat alam memberi kehidupan, tapi jangan merusak. Ketahanan fisik bukan masalah besar, melainkan kekuatan mental dan psikologis sangat di utamakan. Telah banyak campur tangan Tuhan dalam perjalananku selama ini. Bahkan sekali kejadian yang terjadi secara kebetulan. Ibaratnya, ratusan kali aku telah  diloloskan  dari lubang jarum kehidupan.

Sepanjang perjalanan melintasi jalan sempit setapak. Tetesan keringat peluh basahi sekujur tubuh. Sebenarnya kita tak perlu terbang jauh menikmati keindahan alam semesta, cukup di sini. Mata ini belumlah berubah, masih bisa melihat hal yang wajar. Hatiku bergetar bagai terserang rindu. Aku tegak berdiri menatap luasnya langit, berharap bintang jatuh tuk  satu permintaan. Kabut tipis turun disapu lembut  belaian angin yang menusuk hingga ke tulang rusuk.

Pilihanku satu satunya sekarang adalah mempertahankan  panas yang di hasilkan tubuhku. Aku bertahan duduk menyilangkan kaki, menyilangkan lengan di dada, tangan tak jauh menempel di bawah leher, kepala menekuk kedepan. Ini posisi terbaik  untuk menjaga organ vitalku  tetap hangat. Secara teratur kugerakkan jari-jari yang mati rasa.  Bisa kukatakan jari-jariku bergerak, hanya saja ujungnya terasa seperti kayu, sama sekali tidak merasakan apa-apa. 
Semua tak pernah sama. Di sini, aku berdiskusi dengan warna warni yang lirih. Aku butuh cahaya bulan tuk terangi malam-malamku. Rasanya badan remuk dan mati kutu kedinginan dikala itu.

Sesampai di bumi perkemahan, langsung saja dirikan tenda dan memasak air panas tuk satu cangkir teh hangat. Persediaan makanan yang minim mendatangkan permasalahan baru.  Dalam kesendirian, aku seolah tidak percaya  bahwa sedang berdiri  jauh di pelosok belahan bumi yang gelap. Aku berusaha menerjemahkan bahasa yang diberikan oleh sang alam. Di saat orang lain bersuka cita menyambut tahun baru 2013, aku berada di tempat asing, terpencil sepi! Terpuruk jauh dari hiruk pikuk kota. Cahaya bintang seakan ingin mengusir dinginnya malam yang sunyi senyap. Semoga ini hanya sekedar fatamorgana panjang penghantar tidur.

Keesokan paginya aku merasa lebih baik sekaligus lebih buruk. Tidur pulas sudah mengisi ulang bateraiku, dan sepertinya pikiranku lebih jernih. Aku bisa memahami kondsiku dengan lebih jelas, hanya saja itu bukan kabar baik.



Kicauan burung di pagi hari membangunkan diri yang mulai membeku. Kristal es di sepanjang hamparan rumput dan matahari menyilaukan cahaya emas dengan suhu hampir menembus titik beku.  Garis cakrawala ujung langit di ufuk timur, menandai bias sinar matahari  berwarna jingga yang perlahan berubah  menjadi kuning. Mentari semakin meninggi, memberi kehangatan suasana dan kehangatan dalam hati. Di sini,  aku bisa menikmati udara bersih, hijau sejauh mata memandang, tupai yang berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya, cantik sekali. Kuhirup perlahan dalam-dalam, segarnya udara pagi. Menumbu terbangkan sebuah semangat.  Pagi yang menakjubkan.

Selesai berkemas dan sarapan roti. Tak lupa aku menyeruput teh sisa tadi malam, sebelum meninggalkan bumi perkemahan. Sebelumnya aku memperoleh penjelasan lengkap gunung tertinggi di pulau jawa ini. Dan mendapat peringatan keras untuk tak sampai ke puncak tertinggi. Peringatan itu sederhana namun memberikan implikasi besar. Ternyata, setelah semakin dekat harapan tinggalah harapan.

Kurasakan perbedaan alam yang mencolok. Apakah disebabkan oleh pemasan global? Pikirku. Sekarang udaranya sangat panas. Terik mentari terasa lebih menyengat dan membuatku gerah. Satu setengah jam lamanya, aku tiduran di bawah pohon. “Suara apa tadi? Teriakku”.  Suara cukup keras dan membutku kaget setengah mati. Seperti suara pohon tumbang menghempas tanah. Aku tak tau dari mana asalnya, tapi di sini sunyi sepi di kala kedua kelopak mata ini terbuka lebar. Sekarang aku sungguh sungguh menyadari tempat keberadaanku, hanya saja gelombang halusinasi tak beraturan  masih membuat benakku berkabut.
Senja mengelantung di langit, aku duduk sendiri, memandangi akhir hari ini. Home is a place where you can find your love, right.  Ternyata bahagia itu sederhana. Mungkin, bukan rasa yang dicari, melainkan suasana akrab itu. There will always be reasons to wait. Dan aku sadar, menunggu adalah sebuah perjalanan yang harus dilalui.

Hampir terkapar mendaki puncak, walaupun ekspedisi kali ini tak tuntas dan cuma berakhir di Ranu Kumbolo. Aku tidak mau memaksakan diri.Walaupun target awalku sebenarnya memang puncak mahameru. Perubahan persepsiku ditegaskan ketika aku menyadari suara burung-burung. Pada ketinggian seperti ini hidup beberapa jenis burung,  namun bukan burung penyanyi  dan jumlahnya tak banyak.  Mula mula aku tak memikirkan apa pun tentang itu – sebab aku hanya menysuri hamparan tersebut.  Keindahan alam menjadi sarana mempertajam rasa dan estetika.


Halusinasi menari-nari dipikiranku, namun di bawah itu semua ada janji untuk pulang. Tak pernah sesali hari berlalu, hanya fokus sambut esok yang lebih baik. Karena hari ini adalah hari-hari terindah, yang terukir di lembaran kertas hitam. Tuhan Maha Besar!




Comments
0 Comments

0 comments: