Do what you like and do it honestly

Jul 14, 2013

TEH MAROKO RAMUAN TANGANMU

Aku paling tidak suka menerima kebaikan hati seseorang. Ketika aku sedang duduk melamun sendirian di cafeteria pusat budaya Islam Madrid, lelaki itu datang menghampiriku. Dengan hangat menyapa.  What are you doing here? not drink or eat!


Perut keroncongan, itu alasan klasik sebenarnya. Tiba-tiba aku  menjadi tak berselera, ketika menatap menu yang ditawarkannya. Apa sebab? Tak ada satupun masakan Spanyol yang benar benar cocok dengan lidahku.  Tetapi begitulah kenyataannya, miskin rasa.

Mungkin pria punya selera kampungan tak pantas keliling dunia.  Akhirnya aku memutuskan tuk memesan roti, telur rebus dan teh hangat.

Roti yang kutelan tak ada rasa sama sekali. Kutatap rintih dua butir telur rebus. Tidak! Aku tak begitu suka telur rebus. Apalagi yang setengah matang.Tetapi aku harus makan dan sehat selama di negri orang. Dengan susah payah ku melahap telur.

Apa istimewanya teh gaya Maroko? tanyaku heran. Bangsa Maroko terbiasa meminum teh dengan ditambahkan daun mint, terang penjaga cafetaria.





Dia adalah Muhammad, keturunan Maroko dan telah menjadi warga negara Spanyol sejak beberapa dekade lalu. Dia   mejelaskan bahwa konsumsi teh bergaya khas Maroko sebaiknya diminum tanpa ditambah susu atau madu, karena akan merusak rasa. Daun teh bisa dimasukkan pada saat memasak teh, atau bisa juga dimasukkan langsung ke dalam cangkir teh. Tetapi jangan terlalu lama merendam daun mintnya, karena menyebabkan rasa asam. Tak hanya disajikan saat jam makan siang, melainkan setiap waktu. Minum teh sudah menjadi tradisi sejak zaman dahulu kala.  

Aku merasa hidup kembali. Ketika meneguk teh mint bergaya maroko, penuh persahabtan dan tradisi. Tentu, penyajiannya dalam gelas tinggi. Dengan keseimbangan sempurna teh hijau dan daun mint kering, sungguh nikmat. Mungkin yang sangat mengelitik; tehnya disajikan dengan cara berbeda dan  disini kami  mengimpor teh terbaik dari Indonesia, ungkap Muhammad dengan senyum lebar.

Sambil menyerumput teh mint bergaya maroko, dan kita mengobrol apa saja hingga gelas ke tiga. Sluuuurpp!

Tak sepeserpun uang dikeluarkan kala itu, alias gratis. Sepanjang perjalanan pulang ke hostel, aku lebih banyak diam. Metro masih ramai dengan kicauan dan kelakar manusia yang tak kukenal sama sekali. Aku menghela napas. Apa yang harus kulakukan tuk membalas kebaikan Muhamad?  Barangkali aku saja yang terlampau berlebihan.

Barangkali…

Comments
1 Comments

1 comment:

  1. Sepertinya saya sama dengan Mas Kharis, akan nelangsa karena miskin rasa dengan kuliner Eropa. Tapi, bukankah itu berarti betapa kuliner nusantara sangat kaya rasa? Mungkin itu sebabnya lidah kita tidak biasa hehe.

    ReplyDelete